Belajar
dan pembelajaran adalah dua hal yang saling berhubungan erat dan tidak dapat
dipisahkan dalam kegiatan edukatif. Belajar dan pembelajaran dikatakan sebuah
bentuk edukasi yang menjadikan adanya suatu interaksi antara guru dengan siswa.
Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dalam hal ini diarahkan untuk mencapai
tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru secara
sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan
segala sesuatunya untuk kepentingan dalam pengajaran.
Dalam
kegiatan belajar dan mengajar, peserta didik adalah subjek dan objek dari
kegiatan pendidikan. Oleh karena itu, makna dari proses pengajaran adalah kegiatan
belajar peserta didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran
akan dicapai apabila peserta didik berusaha secara aktif untuk mencapainya.
Keaktifan anak didik tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari
segi kejiwaan. Apabila hanya dari segi fisik saja yang aktif dan mentalnya
tidak aktif, maka tujuan dari pembelajaran belum tercapai. Hal ini sama saja
dengan peserta didik tidak belajar, karena peserta didik tidak merasakan
perubahan dalam dirinya. Belajar pada hakikatnya adalah suatu “perubahan” yang
terjadi dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas belajar (Djamarah
& Zain dalam Dasopang, 334: 2017).
Belajar
dimaknai sebagai proses perubahan perilaku sebagai hasil interaksi individu
dengan lingkungannya. Perubahan perilaku terhadap hasil belajar bersifat continiu,
fungsional, positif, aktif, dan terarah. Proses perubahan tingkah laku dapat
terjadi dalam berbagai kondisi berdasarkan penjelasan dari para ahli pendidikan
dan psikologi. Adapun pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
pendidik, dengan bahan pelajaran, metode penyampaian, strategi pembelajaran,
dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar. Kemudian, keberhasilan dalam
proses belajar dan pembelajaran dapat dilihat melalui tingkat keberhasilan
dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan tercapainya tujuan pembelajaran, maka
dapat dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam mengajar.
Meskipun
pengertian belajar dapat ditemukan dalam berbagai sumber atau literatur.
Meskipun kita akan melihat perbedaan-perbedaan di dalam rumusan pengertian
belajar tersebut dari masing-masing ahli, namun secara prinsip kita akan
menemukan kesamaanya. Burton, dalam sebuah buku “The Guidance of Learning Avtivities”, merumuskan pengertian belajar
sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi
antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga
mereka mampu berinteraksi dengan lingkuangannya. Dalam sebuah situs tentang
pengertian belajar, Abdillah mengidentifikasi sejumlah pengertian belajar yang
bersumber dari para ahli pendidikan/pembelajaran. Dari kesimpulan yang dikemukakan
oleh Abdillah, “Belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu
dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang
menyangkut aspek kogntif, afektif dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan
tertentu” (Aunurrahman, 35:2010)
Dalam
konteks ini seseorang dikatakan belajar bilamana terjadi perubahan dari tidak
mengetahui sesuatu menjadi mengetahui.
Pengetahuan tersebut dipersepsikan diperoleh dari guru. Keadaan ini
memposisikan guru sebagai sosok yang serba tahu tentang sesuatu. Guru
seolah-olah sumber dari segala pengetahuan,
dan tanpa guru tidak ada kegiatan yang disebut belajar. Kita sering mendengar
ucapan-ucapan siswa yang mengatakan “kami hari ini tidak belajar”. Yang mereka
maksudkan di sini guru tidak hadir di kelas ketika jam pelajaran karena ada
suatu kegiatan. Jadi seolah-olah jika guru tidak hadir di kelas , maka tidak
ada kegiatan di kelas. Membiarkan persepsi yang keliru ini berkembang sungguh
sangat merugikan anak. Sebab dalam kemajuan teknologi saat ini belajar tidak
harus tergantung sepenuhnya pada hadir atau tidaknya guru bersama siswa.
Akan
tetapi perkembangan pesat teknologi tidak serta merta dapat menghilangkan peran
guru, karena begitu banyak sentuhan-sentuhan pendidikan yang tidak mungkin dapat
menggantikan peran guru. Guru yang
sukses di sekolah biasanya menguasai masalah-masalah professional dan akademik,
mengerti motif, kepribadian, kemampuan, gaya belajar dan berpikir, tingkah laku
sosial dan antisosial siswa, respect,
dan diterima oleh teman sejawat dan siswa, dan merasa senang menerima pekerjaan
penting (Djiwandono dalam Aunurrahman, 39:2010).
Kegiatan belajar menunjukkan suatu aktifitas pada
diri seseorang/ peserta didik yang disadari atau disengaja. Aktifitas ini
menunjuk kepada keaktifan peserta didik dalam melakukan suatu kegiatan
tertentu, baik pada aspek-aspek jasmaniah maupun aspek mental. Kegiatan belajar
dikatakan semakin baik, bilamana intensitas keaktifan jasmaniah dan mental
semakin tinggi. Begitu banyak aktifitas seseorang/ peserta didik yang merupakan
cerminan dari kegiatan belajar, walaupun diri individu tadi tidak menyadarinya.

No comments:
Post a Comment