Profil

My photo
Padang, Sumatera Barat, Indonesia
Nama saya Afri Mardicko, dosen di Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung. Saya putra asli Minang dan Jawa. Suku Minang saya adalah Caniago solok.

Friday, April 16, 2021

SUPERVISI PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN PROSES PENGAJARAN

A.    SUPERVISI SEBAGAI PENGEMBANG PROSES PENGAJARAN

Pelaksanaan supervisi dalam pengembangan proses pengajaran. Sergiovanni (1987) menjelaskan bahwa pelaksanaan supervisi pengajaran lebih menekankan pada kegiatan mengawasi kualitas pembelajaran dan monitoring kegiatan proses pembelajaran di sekolah. Kegiatan memonitoring itu bisa dilakukan melalui kunjungan supervisor ke kelas-kelas di saat guru sedang mengajar, percakapan pribadi dengan guru, teman sejawatnya, maupun dengan sebagian anak didiknya, dan mengembangkan profesionalisme guru. Kegiatan ini lebih menekankan pada upaya peningkatan kualitas guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas.

Supervisi pengajaran, pengawasan bisa membantu guru mengembangkan kemampuannya dalam memahami pengajaran, mengembangkan keterampilan mengajarnya, dan menggunakan kemampuannya melalui teknik-teknik tertentu. Teknik-teknik tersebut bukan saja bersifat individual, melainkan juga bersifat kelompok. Dalam supervisi pengajaran, pengawasan bisa mendorong guru menerapkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas mengajarnya, mendorong guru mengembangkan  kemampuan sendiri, dan mendorong guru agar mereka memiliki perhatian yang sunguh-sunguh terhadap tugas dan tanggung jawab mereka. Dengan kata lain melalui supervisi pengajaran, supervisor bisa menumbuhkan motivasi guru.

Prinsip-prinsip supervisi pengajaran menurut Dharma (2008:13) yaitu:

1.      1. Supervisi pengajaran harus mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis. Hubungan kemanusiaan yang harus diciptakan harus bersifat terbuka, dilandasi rasa kasih sayang dan saling menghargai. Oleh sebab itu dalam  pelaksanaan  supervisi, sekolah memiliki sifat-sifat suka membantu, memahami, terbuka, jujur, mantap, sabar, antusias, dan penuh humor.

2.      Supervisi pengajaran harus dilakukan secara berkesinambungan. Supervisi

akademik bukan tugas bersifat sambilan yang hanya dilakukan sewaktu-waktu

jika ada  kesempatan. Kegiatan ini bukanlah tugas yang bersifat sambilan. Hal ini dipertegas oleh Alfonso (1981) supervisi pengajaran merupakan salah satu essensial function dalam keseluruhan program sekolah.

3.      Supervisi pengajaran harus berlangsung secara demokratis. Supervisor  tidak

boleh mendominasi pelaksanaan supervisi pengajarannya. Oleh karena itu, program supervisi pengajaran harus direncanakan, dikembangkan, dan diimplementasikan secara kooperatif dan koordinatif bersama para guru, kepala sekolah, dan pihak-pihak terkait lainnya.

4.    Program supervisi pengajaran harus bersifat integral terhadap program pendidikan. Di dalam setiap organisasi pendidikan, terdapat bermacam sistem perilaku dengan tujuan sama, yaitu tujuan pendidikan. Alfonso (1981) membaginya ke dalam sistem perilaku administrasi, pengajaran, kesiswaan, pengembangan konseling, dan supervisi pengajaran.

5.    Konsep supervisi pengajaran harus diselenggarakan secara komperhensif. Program supervisi pengajaran harus mencakup keseluruhan aspek pengembangan pengajaran, walaupun dimungkinkan adanya penekanan aspek-aspek tertentu sesuai hasil analisis kebutuhan pengembangan program sebelumnya. Prinsip didasarkan pada tuntutan multi tujuan supervisi pengajaran, berupa supervisi kualitas, pengembangan profesionalisme, dan peningkatan motivasi guru.

6. Supervisi pengajaran harus bersifat konstruktif. Tujuannya bukanlah untuk mencari-cari kesalahan guru. Dan sudut pandang secara positif, penilaian kinerja berguna untuk mengembangkan pertumbuhan dan kreativitas guru dalam memahami dan memecahkan masalah-masalah pengajaran yang dihadapi.

7. Supervisi pengajaran harus dikerjakan secara objektif. obyektif. Dalam menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi, keberhasilan program supervisi akademik harus obyektif. Objektivitas dalam penyusunan program supervisi pengajaran berarti bahwa program tersebut harus disusun berdsarkan kebutuhan nyata pengembangan profesionalisme guru. Hal yang sama berlaku bagi evaluasi keberhasilan program supervisi pengajaran. Dalam hal ini, instrumen pengukuran yang memiliki validitas dan reliabilitas tinggi sangat diperlukan untuk   mengukur tingat kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran.

 

Seperti yang dinyatakan, sebuah program supervisi pengajaran yang baik dan dilaksanakan secara terencana dengan alat ukur yang sesuai akan memberikan konstribusi  yang  signifikan  dalam  pencapaian  kualitas  kinerja  guru  menurut kinerja profesionalisme. Sejalan dengan kebijakan dan program baru di bidang pendidikan yang di tempuh oleh pemerintah, kata kunci yang dipergunakan untuk mengukur kualitas kinerja guru adalah kompetensi guru. Kompetensi mempunyai rumusan yang berbeda walaupun subtansi dan esensinya sama.

Pemerintah telah menuangkan rumus kompetensi guru dalam UU Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional yang berisi Perintisan Pembentukan Badan Akreditasi dan Sertifikasi Mengajar di daerah. Kebijakan menetapkan Undang-undang ini merupakan bentuk dari upaya peningkatan kualitas tenaga kependidikan secara nasional. Sebagai tindak lanjut dari undang-undang tersebut Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah menetapkan suatu standarisasi untuk kompetensi seorang guru.

 

B.        STANDARISASI KOMPETENSI GURU

Standarisasi kompetensi guru adalah suatu ukuran yang ditetapkan bagi seorang guru dalam menguasai seperangkat kemampuan agar berkelayakan menduduki jabatan fungsional guru, sesuai bidang tugas dan jenjang pendidikan tertentu. Persyaratan yang dimaksud adalah penguasan proses pembelajaran dan penguasaan pengetahuan. Standarisasi kompetensi guru bertujuan untuk:

1.   Memformulasikan peta kemampuan guru secara nasional yang diperuntukan bagi perumusan kebijakan program pengembangan dan peningkatan tenaga kependidikan, khususnya guru.

2.   Memformulasikan peta kebutuhan supervisi dan  peningkatan  mutu  guru sebagai dasar bagi pelaksanaan peningkatan kompetensi, peningkatan kualifikasi, dan diklat-diklat tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan.

3.   Menumbuhkan kreativitas guru yang bermutu, inovatif, terampil mandiri, dan bertnggungjawab, yang dijadikan dasar bagi peningkatan dan pengembangan karir tenaga kependidikan yang profesional khususnya pendidik.

 

C.    STRUKTUR STANDARISASI

Sruktur standarisasi memiliki dua unsur penting yang harus dimiliki guru. Kedua unsur tersebut adalah prasyarat atau potensi kepriadian dan unsur penguasaan seperangkat kompetensi yang meliputi keterampilan proses dan penguasaan pengetahuan. Kedua unsur tersebut dikolaborasikan dalam bentuk kesatuan yang utuh dan membentuk struktur kemampuan yang harus dimiliki. Uraian dari kedua unsur tersebut diberikan dibawah ini:

1.Potensi Kepribadian (Prasyarat)

Kepribadian menurut Allport ( dalam Barrick & Ryan, 2003) didefinisikan sebagai suatu organisasi yang dinamik dalam diri individu yang merupakan sistem psikopysikal dan hal tersebut menentukan penyesuaian diri individu secara unik terhadap lingkungan. Ini menekankan pada atribut eksternal seperti peran individu dalam lingkungan sosial, penampilan individu, dan reaksi individu terhadap orang lain. Sementara itu, (Pervin & John, 2001) mendefinisikan kepribadian sebagai karakteristik dari seseorang sebagai hasil dari pola yang konsisten dalam berasa, berpikir dan berperilaku. Feist & Feist (1998) mendefinisikan kepribadian sebagai sebuah pola yang relatif menetap, trait, disposisi atau karakteristik di dalam individu yang memberikan beberapa ukuran yang konsisten tentang perilaku.

Potensi kepribadian merupakan prasyarat yang harus dimiliki seorang guru dalam melaksanakan profesinya. Potensi tersebut adalah potensi kepribadian interpersonal dan intrapersonal.

 

2.   Kompetensi

Kompetensi merupakan seperangkat kemampuan yang harus dimiliki guru searah dengan kebutuhan, pendidikan di sekolah (kurikulum). Tuntutan masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kompetensi yang dimaksud meliputi kompetensi keterampilan proses dan penguasaan pengetahuan. Secara general, kompetensi sendiri dapat dipahami sebagai sebuah kombinasi antara ketrampilan (skill), atribut personal, dan pengetahuan (knowledge) yang tercermin melalui perilaku kinerja (job behavior) yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi. Dengan demikian, kompetensi tidak berhubungan secara langsung dengan kemampuan intelektual (IQ) tetapi lebih banyak terkait dengan perilaku (behavior).

Kompetensi proses pembelajaran  merupakan penguasaan terhadap kemampuan yang berkaitan dengan proses interaksi antar pendidik dengan peserta didik yang melibatkan komponen lainnya. Kompetensi ini mencakup pemahaman terhadap wawasan pendidikan, pengembangan diri dan profesi pengembangan potensi peserta didik, dan penguasaan akademik.

Fungsi dari supervisi profesional guru adalah untuk menciptakan iklim yang mampu  mendorong  terjadinya  inovasi  dan  perubahan  dalam  sistem  sekolah untuk menuju pada kondisi  yang lebih baik. Supervisi profesional berfungsi untuk menata seluruh komponen sistem pendidikan agar memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan yang digariskan.

Kesimpulan bahwa supervisi profesional guru tidak berfokus hanya pada masalah  kemampuan  profesional  tetapi  juga  berusaha  untuk  memperbaiki seluruh komponen yang terlibat dan terkait dalam kegiatan pengajaran. Jadi supervisi profesional guru berperan untuk meningkatkan kompetensi guru, melengkapi    sarana, memberikan fasilitas, mengembangkan kurikulum memberikan reward yang sesuai, dan menata lingkungan baik fisik maupun non fisik. Kerangka dasar untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah seagai berikut:

a)      Guru yang profesional.

b)      Sekolah sebagai organisasi belajar.

c)       Sumber daya pendidikan yang kondusif.

 

Ketiga komponen di atas adalah unsur yang dapat mempercepat terjadinya peningkatan kualitas pendidikan secara simultan.

 

D.    OBSERVASI KELAS

Observasi kelas merupakan pengamatan proses pembelajaran secara teliti di kelas. Observasi kelas secara sederhana bisa diartikan melihat dan memperhatikan secara teliti terhadap gejala yang nampak. Observasi kelas adalah teknik observasi yang dilakukan oleh supervisor terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung.Tujuannya adalah untuk memperoleh data obyektif aspek-aspek situasi pembelajaran, kesulitan-kesulitan guru dalam usaha memperbaiki proses pembelajaran.

Observasi kelas yang dilakukan oleh pengawas terhadap guru biasanya merupakan kegiatan yang rutin dan berdampak sangat baik minimal terhadap kehadiran guru di dalam kelas. Mulai dari situasi kelas sampai gaya cara guru mengajar dapat di observasi oleh pengawas secara biak. Informasi yang di dapatkan sangat posesif untuk umpan balik supervisi profesional selanjutnya.

Aspek-aspek yang diobservasi di dalam kelas Secara umum, aspek-aspek yang diobservasi (Prasojo dan Sudiyono, 2011) adalah: 1) usaha-usaha dan aktivitas guru dalam proses pembelajaran, 2) cara menggunakan media pengajaran 3) variasi metode, 4) ketepatan penggunaan media dengan materi 5) ketepatan penggunaan metode dengan materi, dan 6) reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar

 

E.     EVALUASI PROSES PEMBELAJARAN

Secara umum ada dua macam evaluasi yang kita kenal, yakni evaluasi hasil belajar dan evaluasi pembelajaran. Evaluasi hasil pembelajaran disebut juga evaluasi substantive atau populer dengan sebutan tes dari pengukuran hasil belajar. Sedangkan evaluasi proses pembelajaran yang oleh beberapa ahli ada pula yang menyebutkan sebagai evaluasi diagnostic atau juga evaluasi manajerial.

Evaluasi diagnostik merupakan salah satu fungsi evaluasi yang memerlukan prosedur dan kompetensi yang lebih tinggi dari para guru sebagai evaluator pembelajaran. Evaluasi diagnostik, merupakan evaluasi yang memiliki penekanan khusus pada penyembuhan kesulitan belajar siswa yang tidak terpecahkan oleh formula perbaikan yang biasanya ditawarkan dalam bentuk evaluasi formatif oleh guru. Dengan evaluasi diagnostik, diharapkan guru menemukan semua kendala-kendala, seberapa banyak siswa yang bermasalah dalam belajarnya, dan mengetahui berapa banyak siswa yang memiliki masalah belajar yang sama.

1.   Tahap evaluasi

Belum  ada  satu  jenis  evaluasi  proses  pembelajaran  yang cocok untuk segala situasi dan kebutuhan. Tapi secara umum, paling tidak ada beberapa tahapan akhir yang hampir selalu dilalui dalam evaluasi proses pembelajaran yaitu:

a.    Penentuan tujuan evaluasi.

b.   Desain evaluasi.

c.    Pengembangan instrument.

d.   Kalibrasi instrument evaluasi proses pembelajaran.

e.    Pengumpulan data (menggunakan instrument valid)

f.    Analisis data.

g.   Interprestasi data.

h.   Tindak lanjut hasil evaluasi.

 

2.   Tahap Penentuan Tujuan Evaluasi Proses Pembelajaran

Pada tahap pertama ini semua tujuan evaluasi ditentukan. Proses ini sangat penting sebab tahap inilah yang akan sangat menentukan pada evaluasi. Tujuan  harus dijabarkan dalam bahasa dan langkah operasional sehingga mudah dipahami dilaksanakan dan diukur, misalnya bagaimana penilaian peserta didik terhadap kemampuan pendidik dalam hal menyelenggarakan prose pembelajaran? Bagaimana penilaian peserta didik tentang kesesuaian penggunaan media pembelajaran? Bagaimana keefektifan metode cooperative learning yang telah digunakan dalam tiga minggu tatap muka? Masalah apa yang muncul dalam kegiatan praktik kerja lapangan? Apakah metode conservative learning yang selama ini digunakan sudah sesuai? Pertanyaan inilah yang perlu dijawab dengan analisis yang cermat.

 

3.      Tahap Desain Evaluasi Proses Pembelajaran

Tahap berikutnya adalah perencanaan  (desain) evaluasi  disusun. Pada tahap ini pokok-pokok yang perlu dipertimbangkan masuk dalam perencanaan adalah:

a.    Judul evaluasi proses pembelajaran.

b.   Pendekatan/desain evaluasi.

c.    Waktu.

d.   Variabel.

e.    Menentukan dimensi dan indikatir.

f.    Model/teknik pengumpula data

1.Model.

2.Skala

3.Unit analisis

4.Sumber data.

g.   Kalibrasi instrument

1.   Sumber untuk face dan logical validity.

2.   Teknik construct validity

3.   Untuk menentukan indeks reliability

 

4.      Tahap Pengembangan Instrument Evaluasi Proses Pembelajaran

Tahap  selanjutnya adalah membuat instrument (alat ukur) ada beberapa teknik untuk mengembangkan  instrument, antara lain angket/kuesioner, interview, observasi, review dokumen dan multi comparative. Kursioner dan  interview pada dasarnya sama.  Kedua istilah  ini  digunakan  hanya untuk  membedakan  bahwa  pertanyaannya  dalam  kuersioner  cenderung tertutup dan tersetruktur, sedangkan pertanyaan-pertanyaan dalam interview cenderung terbuka dan flaksibel (walaupun interview yang sangat terstruktur, dank arena itu tidak fleksibel juga ada). Observasi atau pengamatan sudah cukup populer, sedangkan interview dokumen adalah cara menggali informasi dengan jalan meneliti berbagai dokumen (kurikulum,  buku  teks,  rencana  mengajar,  peraturan-peraturan (tertulis,dsd). Muliti comparison, digunakan apabila objek yang akan disikapi lebih dari 1 sumber data jumlahnya banyak.

Instrument dapat dibuat dengan wujud yang sangat sederhana dapat juga sangat rumit dan rinci. Seorang pendidik misalnya, hanya membutuhkan selembar kertas  kecil  untuk  mendaftar beberapa pertanyaan  yang akan diajukan  kepada  peserta  didik.  Sedikit  lebih  rumit  dari  itu,  seorang pendidik lain mungkin membuat seperangkat kuersioner yang hanya terdiri dari lima bab pertanyaan. Jika butir instrument didesain dengan baik, pendidik tersebut akan mendapatkan input atau umpan balik yang konseptual. Pada tahap ini guru dan pengawas sudah harus mulai mengidentifikasi berbagai pertanyaan-pertanyaan, dimensi, dan indikator. Perlu juga diperhatikan berbagai pertanyaan tersebut harus sesuai dengan jenis/model teknik pengumpulan data, dan skala data.

F.     PENGARUH   SUPERVISI   TERHADAP   RENCANA   PENGEMBANGAN SEKOLAH

Rencana pengembangan sekolah merupakan rencana yang komperhensif untuk mengoptimalkan pemanfaatan segala sumber daya yang ada dan yang mungkin diperoleh guna mencapai tujuan yang diinginkan di masa datang. Rencana pengembangan sekolah harus berorientasi ke depan dan secara jelas bagaimana menjembatani antara kondisi saat ini dan harapan yang ingin di capai di masa depan.

Rencana pengembangan sekolah merupakan rencana yang secara komperhensif memperhatikan peluang dan ancaman dari lingkungan eksternal, memperhatikan kekuatan dan kelemahan internal, dan kemudian mencari dan menemukan strategi dan program-program untuk memanfaatkan peluang dan kekuatan  yang dimiliki,  mengatasi  tantangan dan kelemahan yang ada guna mencapai visi yang diinginkan.

Dengan demikian dalam rencana pengembangan sekolah harus tergambar secara jelas:

1. Visi sekolah yang menunjukan gambaran sekolah di masa datang (jangka panjang) yang diinginkan.

2.  Misi sekolah yang merupakan tindakan/upaya untuk mewudjudkan visi sekolah yang telah di tetapkan sebelumnya.

3. Tujuan pengembangan sekolah yang merupakan apa yang ingin dicapai dalam  upaya  pengembangan  sekolah  pada  kurun  waktu  menengah, misalnya 3-6 tahun.

4.   Tantangan  nyata,  yaitu  kesenjangan  dan  tujuan  yang  diinginkan  dari kondisi sekolah saat ini. Dengan demikian tantangan nyata itulah yang sebenarnya harus diatasi oleh sekolah.

5.   Sasaran pengembangan sekolah yaitu apa yang diinginkan sekolah untuk jangka pendek misalnya untuk satu tahun.

6.   Identifikasi fungsi-fungsi yang berperan penting dalam pencapaian sasaran tersebut.

7.   Analisis  SWOT  terhadap  fungsi-fungsi  tersebut,  sehingga  ditemukan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari setiap fungsi yang telah diidentifikasi sebelumnya.

8.   Identifikasi alternativ langkah untuk mengatasi kelemahan dan ancaman dengan memanfaatkan kekuatan dan peluang yang dimiliki sekolah.

9. Rencana dan program sekolah  yang dikembangkan dan alternativ yang terpilih, guna mencapai sasaran yang ditetapkan.

 

Dalam mencapai rencana pengembangan sekolah harus melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholder),misalnya guru,siswa, pengusaha/karyawan,   orang tua siswa, tokoh masyarakat yang memiliki perhatian kepada sekolah. Dengan cara itulah diharapkan rencana pengembangan sekolah menjadi miliki semua warga sekolah dan pihak lain yang terkait. Pelibatan tersebut tentu saja sesuai dengan kemampuan masing-masing, semua orang dilibatkan sesuai dengan kemampuan dan kepentingannya. Yang penting dijaga adalah rasa terwakili dalam proses penyusunan dan rasa memiliki terhadap hasil. Seluruh warga sekolah harus merasa ikut menentukan dalam proses penyusunan renstra, sehingga merasa ikut memiliki renstra tersebut, dan jadi akhirnya merasa wajib untuk melaksanakannya. Rencana pengembangan sekolah sebenarnya  secara komperhensif mencakup harapan jangka panjang yang ditunjukan oleh visi sekolah, harapan jangkah menengah yang ditunjukan oleh tujuan sekolah dan sasaran jangka pendek sekaligus bagaimana mencapai sasaran tersebut. Jika tahapan tersebut dilakukan secara konsisten maka ketercapaian sasaran demi sasaran pada akhirnya akan berakumulasi menjadi ketercapaian tujuan dan program tahunan sekolah, yang  umumnya disebut dengan RAPBS (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah), jadi RAPBS adalah anggran untuk mencapai suasana yang telah di tetapkan.

Tahapan penyusuna rencana pengembangan sekolah yang disebutkan sebagai apa yang harus tergambar di dalamnya tersebut di atas, harus dilakukan secara berurutan dan di bawa supervisi dan supervisor. Setiap tahap memerlukan, tahapan sebelumnya sebagai dasar juga disepakati dengan kebutuhan sekolah, pemecahan masalah dan dipilih alternative yang baik.

 

G.    MERUMUSKAN VISI SEKOLAH

Visi adalah imajinasi yang menggambarkan kondisi sekolah di masa yang akan datang. Imajinasi ke depan seperti sekolah yang bermutu bagus, diminati masyarakat, memiliki jumlah guru yang cukup dengan fasilitas yang cukup dan kualitas yang baik. Beberapa tantangan yang harus diperhatikan dalam merumuskan visi sekolah (Juhri. 2018). yaitu:

1.   Perkembangan  iptek yang begitu cepat.

2.   Era global akan menyebabkan arus lalu lintas tenaga kerja sangat mudah sehingga banyak tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia.

3. Era informasi akan mempermudah siswa mencari informasi sehingga guru bukan satu-satunya sumber informasi.

4.  Era global berpengaruh terhadap moral manusia sehingga penanaman budi pekerti harus ditekankan.

5.   Kesadaran  orangtua  akan  pentingnta  Pendidikan  yang  bermutu  sehingga sekolah dengan kualitas yang buruk akan tersingkirkan.

6.   Di era AFTA penggunaan bahasa Inggris akan sangat berguna dalam dunia kerja.

7.   Di era AFTA akan ada pembukaan cabang sekolah luar negeri di Indonesia

8.   Kesadaran masyarakat akan pentingnya multiple intelligence

 

Sekolah sebagai  organisasi  Pendidikan  sudah  saatnya menerapkan  system TQM  dalam  disiplin  organisasinya  dengan  pendapat  Van  Den  Linde.  Visi sekolah harus mempertimbangkan potensi yang dimiliki sekolah dan harapan masyarakat untuk sekolah itu. Visi harus tinggi dan dicapai dengan cara yang sungguh-sungguh. Sekolah pada dasarnya membantu siswa dalam mengembangkan diri, sehingga siswa lah yang mewujudkan visi sekolah.

Sekolah disebut juga stakeholder (kelompok kepentingan), guru, karyawan, orangtua, siswa, masyarakat, dan pemerintah adalah pihak yang  berkepentingan dengan sekolah (Juhri, 2018). Rumusan visi yang baik seharusnya memberikan isyarat:

1.   Berorientasi ke masa depan, untuk jangka waktu yang lama.

2.   Menunjukkan keyakinan masa depan yang jauh lebih baik, sesuai dengan norma dan harapan masyarakat.

3.   Mencerminkan standar keunggulan dan cita-cita yang akan dicapai.

4.   Mencerminkan dorongan yang kuat akan tumbuhnya inspirasi, semangat dan komitmen warga.

5.   Mampu menjadi dasar dan pengembangan sekolah ke arah yang lebih baik.

6.   Menjadi dasar perumusan misi dan tujuan sekolah.

 

Visi yang dirumuskan dengan kalimat filosofis harus dirumuskan indikatornya.  Contoh visi unggul prestasi berdasarkan iman dan taqwa memiliki indikator  (Juhri. 2018 : 56):

1.   Unggul dalam peningkatan skor (UN).

2.   Unggul dalam berbagai lomba karya ilmiah remaja.

3.   Unggul dalam kegiatan keagamaan.

4.   Unggul dalam prestasi olahraga.

5.   Unggul dalam prestasi kesenian.

6.   Memiliki lingkungan sekolah yang nyaman dan kondusif untuk belajar.

7.   Mendapatkan kepercayaan dari masyarakat

 

H.    MENYUSUN MISI SEKOLAH

Misi adalah upaya untuk mewujudkan visi. Misi merupakan penjabaran dari visi dalam bentuk rumusan tugas, kewajiban, dan rancangan tindakan yang dijadikan arahan untuk mewujudkan visi. Contoh misi sekolah:

1. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

2.   Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah.

3. Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya sehingga dapat dikembangkan secara lebih optimal.

4. Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa, sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.

5.  Menerapkan  menejemen  partisipasi  dengan  melibatkan  seluruh  warga sekolah dan komite sekolah (Juhri. 2018 : 57).

 

I.       Merumuskan Tujuan Sekolah

Visi dan misi terkait dengan jangka waktu yang sangat panjang, maka tujuan dikaitkan dengan jangka waktu menengah. Tujuan adalah tahapan untuk mewujudkan  visi  sekolah.  Tantangan  nyata  sebenarnya  merupakan (kesenjangan) antara tujuan yang akan dicapai sekolah dengan kondisi sekolah saat ini. Misalnya sebuah sekolah yang berada pada lingkungan masyarakat yang sosial ekonomi sangat bagus, namun anggaran dari pemetintah belum bagus, maka merumuskan strategi untuk mencapai tujuan sekolah adalah menggalang partisipasi orangtua dan masyarakat. Strategi harus  memperhatikan hasil evaluasi diri atau profil sekolah.

 J.      Menentukan sasaran sekolah

Rencana   tahunan   merupakan   penjabaran   tujuan   sekolah   yang   telah dirumuskan berdasarkan kesenjangan yang terjadi antara kondisi sekolah saat ini dengan tujuan sekolah untuk 4 sampai 6 tahun ke depan. Setiap sekolah harus memiliki  visi,  misi,  dan  tujuan  sekolah  sebelum  merumuskan  sasarannya. Sasaran bisa disebut juga tujuan jangka pendek atau tujuan situasional sekolah. Sasaran merupakan tahapan untuk mencapai tujuan sekolah. Misalnya sekolah merencanakan 5 aspek tujuan. Maka sekolah harus menyusun prioritas, apakah 5 aspek tersebut akan digarap pada tahun pertama atau tahun-tahun berikutnya (Juhri. 2018 : 59).

 K.    Mengidentifikasi Fungsi-Fungsi

Langkah ini dilakukan untuk melakukan analisis SWOT. Misalnya untuk meningkatkan skor (GSA) adalah fungsi proses belajar. Apabila sekolah keliru dalam menetapkan  fungsi-fungsi dan tidak sesuai dengan ssasarannya,  maka analisis yang   diperoleh akan menyimpang dan tidak dapat melakukan pemecahan masalah.


L.     Melakukan Analisis SWOT

Analisis SWOT dilakukan dengan maksud untuk mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi dan keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap fungsi baik internal maupun eksternal. Untuk tingkat kesiapan yang memadai, minimal memenuhi kriteria kesiapan yang diperlukan untuk mencapai sasaran, dinyatakan  sebagai kekuatan bagi factor internal atau peluang bagi factor eksternal. Untuk tingkat kesiapan yang kurang memadai memenuhi kriteria kesiapan minimal, dinyatakan sebagai kelemahan bagi factor internal atau ancaman bagi factor eksternal. Setelah diketahui tingkat analisis SWOT 1 langkah selanjutnya adalah memilih langkah-langkah pencerahan persoalan, yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap dan mengoptimalkan fungsi yang dinyatakan siap (Juhri. 2018).

M.   Perubahan kurikulum dalam pembelajaran

Keterpurukan dalam mutu Pendidikan tanah air terjadi karena adanya system kekuasaan dalam mengambil keputusan. Kepala sekolah dan guru-guru yang paling mengetahui keadaan Pendidikan seharusnya berperan dalam pengambilan keputusan. Ironisnya kepala sekolah dan guru-guru berada dalam situasi yang dikendalikan dan merasa tertekan

Kekuasaan   birokrasi   yang   menjadi   factor   penyebab   dari   menurunnya semangat  berpartisipasi  masyarakat  dalam  Pendidikan  yang  ada  di  sekolah. Dulu,  sekolah  sepenuhnya  milik  masyarakat.  Pada  waktu  itu  pemerintah berfungsi  sebagai  penyeimbang,  melalui  pemberian  subsidi  bantuan  bagi sekolah-sekolah pada masyarakat yang benar-benar kurang mampu. Supervisi bergerak dari berbentuk inspeksi dimana otoritas lebih didominasi oleh supervisor, berkembang dalam bentuk kolaborasi antara supervisor dan  guru bersama berinisiatif dan bertanggungjawab dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, serta menumbuhkan budaya belajar pada guru untuk selalu meningkatkan kompetensinya (Subandi, 2013).

Keluarnya inpres nomor 10/1973 membuat pemerintah mengambil alih kepemilikan sekolahyang tadinya dimiliki masyarakat menjadi milik pemerintah sepenuhnya dan dikelola sepenuhnya secara birokratik sentralistik. Pergeseran paradigma pengelolaan Pendidikan sekolah menengah telah tercermin dalam visi pembangunan  Pendidikan  nasional   yang  tercantum  dalam  GBHN  (1999) mewujudkan system dan iklim Pendidikan nasional yang demokrasi dan berkualitas guna mewujudkan bangsa yang berakhlak mulia, kreatif inovatif berwawasan kebangsaan, cerdas, bertanggung jawab, sehat, disiplin,   terampil, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kepala sekolah dan guru-guru harus dikembangkan kemampuannya dalam melakukan analisis agar semakin peka terhadap perkembangan iptek dan memahami   dengan   cepat   cara-cara   pemecahan   masalah   Pendidikan   di sekolahnya masing-masing (Juhri, 2018).  Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.‘ (HR. Ibnu Majah).


DAFTAR PUSTAKA

Alfonso, RJ., et.al. 1981. Instructional Supervision, A Behavior System, Boston: Allyn and Bacon, Inc.

 

Barrick,M.R. & Ryan,A.M. 2003. Personality and work : Reconsidering the role of personality in organization. San Farnsisco : Jossey-Bass.

 

Dharma, Surya. 2008. Metode dan Teknik Supervisi. Jakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.

 

Feist,J. & Fesit,G.J. 1998. Theories of Personality. Fourth edition. New York : McGraw Hill Company.

 

Juhri. 2018. Supervisi Pendidikan. Lampung. CV. Laduny Alifatama.

 

Pervin,L.A & John,O.P. 2001. Personality; Theory and Reasearch. 8 ed. New York : John Wiley & Sons, Inc.

 

Prasojo, Lantip Diyat dan Sudiyono. 2011. Supervisi Pendidikan. Yogyakarta: Gava Media.

 

Sergiovanni, T.J. 1987. The Principalship, A Reflective Practice Perspective. Boston: Allyn and Bacon.

 

Subandi,   A.   2013.   Supervisi   Pendidikan   untuk   Meningkatkan   Profesionalitas   Guru Berkelanjutan. Pedagogik: Jurnal Ilmu Pendidikan, 13 (2), 1-9

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment

HAKIKAT PEMBELAJARAN

1. Makna Pembelajaran Pada bab 1 kita sudah membahas tentang makna belajar. Supaya belajar dapat terlaksana dengan baik dan maksimal maka ...